Selasa, 05 Januari 2016

Guns N Roses

Guns N Roses - Knockin' On Heaven's Door
Knockin' On Heaven's Door
Tuning:Eb
Tom: G

Intro:(G D C)4x

G D Am
Mama take this badge from me
G D C
I can't use it anymore
G D Am
It's getting dark too dark to see
G D C
Feels like I'm knockin' on heavens's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C (G D C)4x
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D Am
Mama put my guns in the ground
G D C
I can't shoot them anymore
G D Am
That cold back cloud is comin' down
G D C
Feels like I'm knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C (G D C)8x
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C
Knock, knock, knockin' on heaven's door
G D C G
Knock, knock, knockin' on heaven's door.

Kaus PHK Di PT. Philips Baam

KASUS PHK DI PT.PHILIPS BATAM



PENDAHULUAN

Pekerjaan merupakan hal yang penting saat ini untuk setiap orang untuk mendapatkan nafkah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari baik untuk diri sendiri ataupun keluarga. Banyak perusahaan yang menawarkan pekerjaan bagi setiap orang yang mau bekerja dan memenuhi persyartan untuk dapat bekerja di perusahaan tersebut. Tapi bukan berarti sudah tenang dan sejahtera jika sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan, terkadang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh kedua belah pihak yaitu pihak perusahaan dan pekerja, seperi PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja). Banyak terjadi kasus-kasus PHK di Indonesia yang dikarenakan berbagai hal yang sulit untuk diseleseikan baik iu soal gaji atau perserikatan buruh yang tidak diijinkan oleh pihak perusahaan, seperti kasus di PT.Philips batam.


TEORI

PHK seringkali disamakan dengan pemecatan secara sepihak oleh perusahaan terhadap pekerja karena kesalahan pekerjanya, sehingga kata PHK terkesan negatif. Padahal, pada kenyataannya PHK tidak selalu sama dengan pemecatan. Dalam UU No 13/2003, Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja/buruh dan pengusaha . PHK dapat dibedakan menjadi dua yaitu secara sukarela dan tidak sukarela. PHK sukarela merupakan pemutusan hubungan kerja yang diajukan oleh pekerja (pengunduran diri) tanpa adanya paksaan atau intimidasi dan disetujui oleh pihak perusahaan. PHK tidak sukarela terdiri dari: (1) PHK oleh perusahaan baik karena kesalahan pekerja itu sendiri maupun karena alasan lain seperti kebijakan perusahaan; (2) Permohonan PHK oleh pekerja ke LPPHI (Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial) karena kesalahan pengusaha; (3) PHK karena putusan hakim dan (4) PHK karena peraturan perundang-undangan.

Jangan lupa bahwa dalam suatu kejadian PHK, kedua pihak sama-sama merugi. Pekerja merugi karena kehilangan mata pencaharian, dan perusahaan merugi karena kehilangan aset sumber daya manusia serta kehilangan modal yang telah dikeluarkan untuk recruitment dan peningkatan kompetensi pekerja (pelatihan dan pendidikan). Karenanya, untuk dapat melakukan analisis etika PHK, pertama-tama kita harus memiliki sudut pandang yang netral mengenai PHK itu sendiri.

Untuk PHK tidak sukarela, etika menjadi lebih kompleks karena ada salah satu pihak yang tidak menyetujuinya. Dalam makalah ini, PHK tidak sukarela yang akan dibahas adalah jenis pertama, yaitu PHK oleh perusahaan. Terdapat bermacam-macam alasan PHK, yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: pertama, karena pekerja (melakukan kesalahan berat atau melanggar peraturan perusahaan); kedua, karena perusahaan (pailit, merugi atau melakukan efisiensi); ketiga PHK yang tidak bisa dihindarkan (selesainya kontrak, pekerja sakit, meninggal dunia atau memasuki masa pensiun).


ANALISIS

Solidaritas.net, Batam –Buruh yang telah dikenai pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan pihak manajemen perusahaan PT Philips yang berlokasi di Panbil Industrial Estate, Jl Ahmad Yani, Muka Kuning, Batam, Kepulauan Riau itu telah menemukan kesepakatan untuk menyelesaikan kasus tersebut di tingkat Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Batam.

Kesepakatan bersama itu ditandatangani kedua belah pihak, Jumat (19/6/2015). Selain itu, pihak manajemen perusahaan juga berjanji akan membayarkan upah dan semua hak buruh selama proses PHK hingga ada putusan dari PHI, dan mengijinkan buruh untuk berserikat. Namun, para buruh yang selama ini melakukan mogok kerja, juga harus kembali bekerja seperti biasa dan menandatangani surat pernyataan untuk tak melakukan mogok kerja lagi.

“Berita baik tentang mogok Philips. Telah ditandatangani kesepakatan, oleh kedua belah pihak, di mana intinya: 1. Perselisihan dilanjutkan ke PHI, 2. Mogok dihentikan, 3. Selama proses PHI, upah karyawan yang di-PHK tetap dibayar, 4. Demi UUD 1945, UU Nomor 13 Tahun 2003, UU Nomor 21 Tahun 2000, pekerja berhak mendirikan Serikat Pekerja di perusahaan,” tulis salah satu pengguna media sosial Facebook bernama Dedi Suryadi di grup Facebook WAJAH BATAM, seperti dikutip oleh Solidaritas.net, Minggu (21/6/2015).

Dalam kesepakatan bersama itu, juga ditegaskan bahwa selama proses PHK tersebut masih berlangsung, kedua belah pihak dilarang melakukan segala tindakan intimidasi. Selain itu, mereka juga harus mentaati dan melaksanakan putusan PHI yang telah berkekuatan hukum tetap nantinya. Kesepakatan bersama itu ditandatangani oleh Manajer HRD PT Philips Batam Agustia Wulandari dan Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPEE FSPMI) PT Philips Batam Muldidanda.

“Pertarungan akan dilanjutkan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Sekarang kita tinggal adu kuat argumen dan lawyer di PHI. Mudah-mudahan, pengusaha Philips ga ada yang dipenjara karena menghalangi pendirian Serikat Pekerja nantinya. Kita lihat, apa duit masih bisa berkuasa di PHI nanti. Selamat atas kemenangan kawan-kawan PUK Philips dalam melawan penindasan,” tambah keterangan dari pengguna Facebook, Dedi Suryadi itu.

Seperti pernah diberitakan Solidaritas.net, kasus PHK ini sendiri diduga bermula dari aktivitas mereka dalam berserikat. PUK SPEE FSPMI PT Philips Batam baru didirikan dan pengurusnya dilantik DPC FSPMI Batam pada 15 Maret 2015. Pihak perusahaan pun mulai mengintimidasi pengurus dan anggota PUK SPEE FSPMI PT Philips Batam, serta menyuruh mereka berhenti berserikat. Setelah pencatatan PUK SPEE FSPMI PT Philips Batam resmi keluar dari Disnaker Batam, pada 10 April 2015, para pengurus serikat pekerja itu pun menerima surat PHK.

“Total yang di-PHK semuanya 90 orang, dengan alasan efisiensi. Padahal perusahaan sedang untung. Kami punya bukti-bukti kuat tentang perusahaan sedang untung. 90 orang itu separuh anggota, separuh non anggota,” jelas Muldidanda saat dihubungi Solidaritas.net.

Mereka pun menggelar aksi mogok kerja sebagai bentuk penolakan terhadap PHK sepihak itu. Sejak tanggal 3 Juni 2015, para buruh yang didominasi perempuan itu melakukan aksi mogok kerja di depan pintu gerbang perusahaan. Bahkan, pada puncak aksi mogok kerja itu, sebanyak 600 buruh di perusahaan itu ikut serta dalam aksi mogok kerja sebagai bentuk solidaritas. Akibatnya, aktivitas produksi perusahaan pun terganggu selama beberapa hari.

Dapat dilihat dari kasus tersebut bahwa kasus PHK disebuah perusahaan itu sulit untuk dipecahkan sampai harus ada pihak ketiga yang menyeseleseikannya. Bisa dibilang manajemen dari perusahaan tersebut tidak  bisa mengatasi masalah internal dalam perusahaanya sendiri sehingga menyebabkan kerugian dari kedua belah pihak, baik itu dari pihak perusahaan ataupun dari pihak pekerja.
















Senin, 16 November 2015

SCORPIONS

Song by : Scorpions

WIND OF CHANGE

[Intro:] F, Dm, F, Dm, Am7, Dm Am7, G

C Dm
I follow the Moskva
C
Down to Gorky Park
Dm Am7 G
Listening to the wind of change
C Dm
An August summer night
C
Soldiers passing by
Dm Am7 G
Listening to the wind of change

[Interlude:] F9, Dm, F, Dm, Am7, Dm Am7, G

C Dm
The world is closing in
C
Did you ever think
Dm Am7 G
That we could be so close, like brothers
C Dm
The future's in the air
C
I can feel it everywhere
Dm Am7 G
Blowing with the wind of change

[Chorus:]

C G Dm G
Take me to the magic of the moment
C G
On a glory night
Dm G Am
Where the children of tomorrow dream away
Am/F G
In the wind of change

C Dm
Walking down the street
C
Distant memories
Dm Am7 G
Are buried in the past forever

C Dm
I follow the Moskva
C
Down to Gorky Park
Dm Am7 G
Listening to the wind of change

C G Dm G
Take me to the magic of the moment
C G
On a glory night
Dm G Am
Where the children of tomorrow share their dreams
Am/F G
With you and me

C G Dm G
Take me to the magic of the moment
C G
On a glory night
Dm G Am
Where the children of tomorrow dream away
Am/F G
In the wind of change

Am G
The wind of change blows straight
Am
Into the face of time
G
Like a stormwind that will ring
C
The freedom bell for peace of mind
Dm
Let your balalaika sing
E E
What my guitar wants to say

[SOLO:] F G, E Am, F G, Am,
F G, E7 Am, Dm, E

C G Dm G
Take me to the magic of the moment
C G
On a glory night
Dm G Am
Where the children of tomorrow share their dreams
Am/F G
With you and me

C G Dm G
Take me to the magic of the moment
C G
On a glory night
Dm G Am
Where the children of tomorrow dream away
Am/F G
In the wind of change

[Outro:] F, Dm, F, Dm, Am7, Dm

Corporate Social Responsibility

CSR PT.GUDANG GARAM Tbk.

PENDAHULUAN

Gudang Garam tumbuh berdasarkan falsafah pendiri perusahaan yang kemudian dikembangkan menjadi dasar tata kelola perusahaan yang baik. Nilai-nilai tersebut seterusnya dijadikan panduan untuk senantiasa memenuhi tanggung jawab kepada karyawan dan masyarakat sekitar.
Kami memiliki komitmen untuk menunaikan tanggung jawab sosial serta terus berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Bagi kami, perwujudan tanggung jawab sosial pada masyarakat merupakan sebuah investasi bagi masa depan sekaligus kesempatan untuk memastikan agar perusahaan dan masyarakat dapat tumbuh bersama dan saling mendukung.

Program CSR PT.GUDANG GARAM Tbk.

1) Lingkungan
Melalui kerjasama dengan pemerintah Kota Kediri dan Radar Kediri yang merupakan anggota Grup Jawa Pos, Gudang Garam turut berperan secara aktif dalam kegiatan penyelamatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dalam kegiatan "Ekspedisi Brantas" dengan menanam pohon. Selain itu kami juga menebar benih ikan untuk pengembangan komunitas budidaya ikan. Gudang Garam terus mendukung upaya masyarakat meningkatkan kebersihan lingkungan dan memperbaiki kondisi kesehatan. Perseroan juga menyumbangkan berbagai fasilitas untuk menciptakan sekaligus memelihara lingkungan sekitar dan alam yang lebih hijau.

2) Masyarakat
Gudang Garam dapat mencapai posisi saat ini antara lain berkat dukungan dari masyarakat sekitarnya. Untuk itu, Perseroan menganggap perlu untuk mempertahankan hubungan ini melalui program-program kegiatan sosial yang menciptakan keharmonisan dan sinergi dengan kegiatan sosial pemerintah daerah setempat. Pada tahun 2013, Perseroan memberikan bantuan bahan kebutuhan pokok kepada sejumlah yayasan, panti asuhan, panti wreda dan panti cacat. Kami juga merenovasi rumah tidak layak huni bagi warga di Kediri dan juga mendanai kegiatan pengadaan kamar mandi, kamar kecil dan tempat mencuci dengan memasang pipa dan bak air untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan prasarana bagi warga setempat.

3) Pendidikan
Pada tahun 2013, Gudang Garam terus memberikan beasiswa dan bantuan renovasi sekolah dan ruang kelas serta sarana sekolah seperti meja, kursi, lemari buku, alat tulis, laptop dan seragam. Kami juga membuka kesempatan magang di Perseroan bagi pelajar dan mahasiswa, serta melayani kunjungan akademis / studi banding dari berbagai institusi pendidikan.

4) Keagamaan
Perseroan juga kerap berpartisipasi dalam menjaga tali silaturahmi yang terjalin dengan baik antar umat beragama khususnya di wilayah Kediri. Dalam semangat kebersamaan, Gudang Garam terus medukung berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh paguyuban keagamaan setempat dan terus memberikan bantuan untuk sarana peribadatan dan prasarana lainnya. Perseroan juga memberikan bantuan pengadaan pos pengamanan bagi pihak kepolisian menjelang Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru di sepanjang jalur mudik yang meliputi wilayah polda Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selama bulan Ramadhan, Perseroan tetap aktif berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan keagamaan seperti kegiatan buka puasa bersama seluruh lapisan masyarakat, mulai dari para pemimpin masyarakat, pemuka agama dan pejabat pemerintah termasuk aparat keamanan setempat.

5) Olahraga
Selama bertahun-tahun, Gudang Garam banyak memberikan bantuan untuk penyelenggaraan program olahraga di daerah, terutama tenis meja dan bola basket. Selain itu Perseroan juga turut menjadi sponsor untuk olahragawan yang mengikuti turnamen di tingkat daerah maupun kabupaten dan di luar negeri. Hal ini merupakan komitmen Perseroan selama beberapa tahun terakhir terhadap pengembangan generasi muda. Perseroan membangun stadion olahraga di Temanggung, Jawa Tengah.

6) Kesehatan
Pada tahun 2013, 1.000 karyawan Gudang Garam ikut menyumbangkan darah dalam program donor darah yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia. Melalui kerjasama dengan tim dokter ahli di Rumah Sakit Umum Daerah Kediri, Perseroan juga memberikan bantuan operasi gratis bagi 23 penderita bibir sumbing yang berasal dari keluarga tidak mampu. Dengan bantuan tim dokter dan rumah sakit, Gudang Garam menyelenggarakan program pemeriksaaan kesehatan dan pengobatan gratis bagi warga desa di Kediri.

TEORI

Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) erat kaitannya dengan masyarakat dan perusahaan-perusahaan besar. Pada dasarnya CSR merupakan bentuk kontribusi perusahaan untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik secara sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat.

Secara harfiah CSR diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan. Sedangkan menurut World Bank, CSR adalah komitmen dari bisnis untuk berkontribusi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehingga berdampak baik bagi bisnis sekaligus baik bagi kehidupan sosial. Para pengamat bisnis juga ada yang mengartikan CSR sebagai bentuk komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan masyarakat secara lebih luas.

MANFAAT BAGI MASYARAKAT

CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat, ini akan sangat tergantung dari orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan CSR meliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban sosial. Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty). Pemerintah bisa menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman satu pihak terhadap yang lain.
Intinya manfaat CSR bagi masyarakat yaitu dapat mengembangkan diri dan usahanya sehingga sasaran untuk mencapai kesejahteraan tercapai.

MANFAAT BAGI PERUSAHAAN

1. Meningkatkan Citra Perusahaan
Dengan melakukan kegiatan CSR, konsumen dapat lebih mengenal perusahaan sebagai perusahaan yang selalu melakukan kegiatan yang baik bagi masyarakat.

2. Memperkuat “Brand” Perusahaan
Melalui kegiatan memberikan product knowledge kepada konsumen dengan cara membagikan produk secara gratis, dapat menimbulkan kesadaran konsumen akan keberadaan produk perusahaan sehingga dapat meningkatkan posisi brand perusahaan.

3. Mengembangkan Kerja Sama dengan Para Pemangku Kepentingan
Dalam melaksanakan kegiatan CSR, perusahaan tentunya tidak mampu mengerjakan sendiri, jadi harus dibantu dengan para pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, masyarakat, dan universitas lokal. Maka perusahaan dapat membuka relasi yang baik dengan para pemangku kepentingan tersebut.

4. Membedakan Perusahaan dengan Pesaingnya
Jika CSR dilakukan sendiri oleh perusahaan, perusahaan mempunyai kesempatan menonjolkan keunggulan komparatifnya sehingga dapat membedakannya dengan pesaing yang menawarkan produk atau jasa yang sama.

5. Menghasilkan Inovasi dan Pembelajaran untuk Meningkatkan Pengaruh Perusahaan
Memilih kegiatan CSR yang sesuai dengan kegiatan utama perusahaan memerlukan kreativitas. Merencanakan CSR secara konsisten dan berkala dapat memicu inovasi dalam perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan peran dan posisi perusahaan dalam bisnis global.


ANALISIS


Menurut saya program CSR yang dilakukan PT.Gudang Garam Tbk. cukup baik dan memiliki nilai positif bagi perusahaan maupun masyarakat luas. Untuk Perusahaan tentu nilai positif ini akan menambah citra dan memperukuat brand perusahaan serta menjadi pembeda dengan pesaing-pesaing perusahaan. 


Referensi :

www.gudanggaram.com

http://idazahro.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-csr-manfaat-bagi-masyarakat.html


Senin, 09 November 2015

WHITE LION

Song by : WHITE LION

YOU ARE ALL I NEED

D G
I know that she¹s waiting
Em A
For me to say forever
D G
I know that I sometimes
Em A
Just don¹t know how to tell her
D G
I want to hold and kiss her
Em A
Give her my love
D
Make her believe
A G
she doesn¹t know
A D
She doesn¹t know


reff :
D Bm G
You¹re all I need beside me girl
A D
You¹re all I need to turn my world
Bm G
You¹re all I want inside my heart
A D
You¹re all I need when we¹re apart

D G
I know that she¹s always
Em A
There when I need her loving
D G
I know that I¹ve never
Em A
Told her how much I love her
D G
I see her face before me
Em A
I look in her eyes
D
Wondering why
A G
She doesn¹t know
A D
She doesn¹t know

back to reff

Bm G
Say, say that you¹ll be there
Em
Whenever I reach out
A
To feel your hand in mine
Bm G
Stay, stay within my heart
Em
Whenever I¹m alone
A
I¹ll know that you are there

back to reff 2x :

D A
All that I need
Em A
Is for you to believe
G Em - A
All that I need
D
Is you

TUGAS ETIKA BISNIS

ETIKA DALAM BERPROMOSI

PENDAHULUAN

Iklan Djarum 76
Iklan ini sangat menarik dan bisa dibilang salah satu iklan yang lucu. Dalam iklan ini seorang pria yang berpenampilan sederhana mungkin agak katro menemukan sebuah lampu ajaib, dimana bila lampu ajaib itu digosok keluarlah jin sakti yang dapat mengabulkan permintaan. Pria tersebut meminta kepada jin agar dirinya dapat terkenal dan foto wajahnya terpampang dimana-mana diseluruh Indonesia, dan si Jin pun mengabulkannya. Namun, tak disangka foto wajah pria tersebut malahan menjadicover bungkus rokok di Indonesia. Ini dia alamat web untuk video iklannya :  www.youtube.com 

TEORI

1. Definisi Periklanan

Periklanan pada dasarnya merupakan salah satu tahap dari pemasaran, yang tiap-tiap tahap itu bagaikan mata rantai yang saling berhubungan dan jaringannya akan terputus jika salah satu mata rantai itu lemah. Periklanan menjadi tahap yang penting yang sama pentingnya dengan tahap-tahap lain dalam proses pemasaran.

Definisi periklanan menurut institute praktisi periklanan Inggris dalam Jefkins (1996: 5) adalah: Periklanan merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasive yang diarahkan kepada (calon) konsumen yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan dengan biaya yang paling ekonomis.

Kotler (1997: 236) mengartikan periklanan sebagai berikut: Periklanan adalah segala bentuk penyajian non-personal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembiayaan.
Dalam membuat program periklanan manajer pemasaran harus selalu mulai dengan mengidentifikasi pasar sasaran dan motif pembeli. Kemudian membuat lima keputusan utama dalam pembuatan program periklanan yang disebut lima M ( kotler 1997: 236) Sebagai berikut:

Mission (misi): apakah tujuan periklanan ?
Money (uang): berapa banyak yang dapat di belanjakan ?
Message (pesan): pesan apa yang harus disampaikan ?
Media (media): media apa yang digunakan ?
Measuremen (pengukuran): bagaimana mengevaluasi hasilnya ?

2. Tujuan Periklanan

Tujuan periklanan menurut kotler (1997: 236) sebagai berikut:

a) Periklanan menjalankan sebuah fungsi ”informasi”.
Biasanya dilakukan secara besar-besaran pada tahap awal suatu jenis produk, tujuannya untuk membentuk permintaan pertama.

b) Periklanan menjalankan sebuah fungsi ”Persuasif” Penting dilakukan dalam tahap kompetitif. Tujuannya untuk membentuk permintaan selektif untuk suatu merk tertentu.

c) Periklanan menjalankan sebuah fungsi ”Pengingat” Iklan pengingat sangat penting bagi produk yang sudah mapan. Bentuk iklan yang berhubungan dengan iklan ini adalah iklan penguat (Inforcement advertising) yang bertujuan meyakinkan pembeli sekarang bahwa mereka telah melakukan pilihan yang benar.

Fungsi-fungsi Periklanan

Seiring pertumbuhan ekonomi iklan menjadi sangat penting karena konsumen potensial akan memperhatikan iklan dari produk yang dibelinya. Menurut Terence A. Shimp (2003), secara umum periklanan mempunyai fungsi komunikasi yang paling penting bagi perusahaan bisnis dan organisasi lainnya yaitu:

1) Informing (memberi informasi) membuat konsumen sadar (aware) akan merek-merek baru, serta memfasilitasi penciptaan citra merek yang positif. 

2) Persuading (mempersuasi) iklan yang efektif akan mampu mempersuasi (membujuk) pelanggan untuk mencoba produk atau jasa yang diiklankan. 

3) Reminding (mengingatkan) iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar dalam ingatan para konsumen. Periklanan yang efektif juga meningkatkan minat konsumen terhadap merek yang sudah ada dan pembelian sebuah merek yang mungkin tidak akan dipilihnya. 

4) Adding Value (memberikan nilai tambah) Periklanan memberikan nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi persepsi konsumen. Periklanan yang efektif menyebabkan merek dipandang lebih elegan, bergaya, bergengsi dan lebih unggul dari tawaran pesaing. 

5) Assisting (mendampingi) peran utama periklanan adalah sebagai pendamping yang memfasilitasi upaya-upaya lain dari perusahaan dalam proses komunikasi pemasaran. Sebagai contoh, periklanan mungkin digunakan sebagai alat komunikasi untuk meluncurkan promosi-promosi penjualan seperti kupon-kupon dan undian. Peran penting lain dari periklanan adalah membantu perwakilan dari perusahaan.

ANALISIS

Yang sudah menonton iklan ini ketika melihat bungkus rokok yang ada gambar wajahnya, pasti akan teringat iklan tersebut. Ini sangat kreatif mengingat bahwa orang-orang akan selalu teringat akan produk yang diiklankan dan ini cukup efektif untuk meberikan nilai tambah untuk produk tersebut.






Selasa, 28 April 2015

CERPEN IMPIAN

IMPIAN SEEKOR SEMUT

Namaku randy, aku adalah seekor semut yang berukuran sangat kecil. Aku memiliki sebuah kelompok yang kompak dan memiliki solidaritas tinggi, disaat seekor semut kesulitan maka kami semua akan membantunnya secara bergotong royong untuk melepaskan penderitaanya. Namun diantara kami sering sekali mati sia-sia karena dengan ukuran sekecil ini kami hanya bisa pasrah melihat teman-teman kami terinjak,terlindas,terbunuh, ataupun dibunuh. Aku mempunyai mimpi untuk menjadi makhluk yang lebih besar agar bisa menjaga teman-temanku dari semua bahaya yang datang. Tetapi semua itu hanyalah impian kosong yang mustahil terjadi, karena Tuhan menciptakan kami sedemikian rupa kami tidak bisa mengubah apa yang telah ditakdirkan olehNya. Terkadang aku berdoa kepadaNya " Ya Tuhan tolonglah kami jadikanlah kami menjadi makhluk yang berukuran lebih besar seperti harimau ataupun singa agar kami tidak mati dengan sia-sia lagi". Setiap malam aku hanya bisa meratapi kematian teman-temanku yang tak berdaya mati terkapar didepan mataku sungguh ironi kehidupan yang kami jalani. Mataku berlinang air mata bahkan para pemimpin-pemimpin semut pun mengais tersedu menyaksikan kematian yang tak pernah terbayangkan oleh kami. Kami berharap kepada semua makhluk hidup yang berukuran lebih besar agar tidak membunuh kami dengan kejam dan keras. Kami hanya menjalani hidup yang telah ditakdirkan dan kami tidak mengganggu kehidupan siapapun di muka bumi ini. Suatu ketika temanku bernama selvi berjalan mengiringi sungai yang tak jauh dari tempat kami tinggal, namun di tengah perjalanan dia dinjak oleh seekor beruang yang sangat besar diapun mati seketika. Kami langsung membawanya ke markas untuk dikuburkan sangat tragis kematiannya diinjak oleh seekor beruang. Ketika kami tanyakan beruang " Beruang, mengapa kau injak teman kami Selvi sampai ia tak berdaya dan mati?" dia pun menjawab " Mohon maaf para semut saya tidak melihat temanmu itu karena ukuran kalian yang sangat kecil". Lihatlah betapa menyedihkannya keidupan kami , aku berharap Impianku dikabulkan olehNya.

Kamis, 16 April 2015

Tugas softskill karya ilmiah



KARYA ILMIAH
TUGAS SOFTSKILL






                                                  (Kemiskinan dan Kesenjangan)



Nama : Yoga Adi Pratama
Npm : 17212815
Kelas : 3EA02


Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma







BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kemiskinan merupakan permasalahan kemanusiaan yang saat ini ada di hampir seluruh belahan dunia . Ia bersifat laten dan aktual sekaligus. Ia telah ada sejak peradaban manusia ada dan hingga kini masih menjadi masalah sentral di belahan bumi manapun.
Kemisikinan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi persoalan kemanusiaan lainnya, seperti keterbelakangan, kebodohan, ketelantaran, kematian dini. Problema buta hurup, putus sekolah, anak jalanan, pekerja anak, perdagangan manusia (human trafficking) tidak bisa dipisahkan dari masalah kemiskinan.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah , beragam kebijakan dan program telah disebar-terapkan, berjumlah dana telah dikeluarkan demi menanggulangi kemiskinan. Tak terhitung berapa kajian dan ulasan telah dilakukan di universitas, hotel berbintang, dan tempat lainnya. Pertanyaannya mengapa kemisikinan masih menjadi bayangan buruk wajah kemanusiaan kita hingga saat ini? Meskipun penanganan kemiskinan bukan usaha mudah, diskusi dan penggagasan aksi-tindak tidak boleh surut kebelakang. Untuk meretas jalan pensejahteraan, pemahaman mengenai konsep dan strategi penanggulangan kemisikinan masih harus terus dikembangkan.
Berdasarkan definisi kemiskinan dan fakir miskin dari BPS dan Depsos (2002), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2002 mencapai 35,7 juta jiwa dan 15,6 juta jiwa (43%) diantaranya masuk kategori fakir miskin. Secara keseluruhan, prosentase penduduk miskin dan fakir miskin terhadap total penduduk Indonesia adalah sekira 17,6 persen dan 7,7 persen. Ini berarti bahwa secara rata-rata jika ada 100 orang Indonesia berkumpul, sebanyak 18 orang diantaranya adalah orang miskin, yang terdiri dari 10 orang bukan fakir miskin dan 8 orang fakir miskin (Suharto, 2004:3).
Antara pertengahan tahun 1960-an sampai tahun 1996, waktu Indonesia berada dibawah kepemimpinan Pemerintahan Orde Baru Suharto, tingkat kemiskinan di Indonesia menurun drastis - baik di desa maupun di kota - karena pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat dan adanya program-program penanggulangan kemiskinan yang efisien. Selama pemerintahan Suharto angka penduduk Indonesia yang tinggal di bawah garis kemiskinan menurun drastis, dari awalnya sekitar setengah dari jumlah keseluruhan populasi penduduk Indonesia, sampai hanya sekitar 11 persen saja. Namun, ketika pada tahun 1990-an Krisis Finansial Asia terjadi, tingkat kemiskinan melejit tinggi, dari 11 persen menjadi 19.9 persen di akhir tahun 1998, yang berarti prestasi yang sudah diraih Orde Baru hancur seketika.

1.2 Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun dengan tujuan :
1)         Memahami bagaimana pengertian kemiskinan dan kesenjengan
2)         Mengetahui kemiskinan dan kesenjengan yang terjadi di Indonesia
3)         Mengetahui penyebab dan dampak dari kemiskinan dan kesenjangan
4)         Mengetahui apa saja kebijakan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan


 1.3 Perumusan Masalah

Dalam penyusanan makalah ini, kami merumuskan beberapa masalah yang akan dikaji sebagi berikut:
1)         Apa yang dimaksud dengan kemiskinan dan kesenjengan?
2)         Apakah pengertian dari garis kemiskinan ?
3)         Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan?
4)         Apa saja penyebab dan dampak dari kemiskinan dan kesenjengan ?
5)         Apa saja indikator kemiskinan dan kesenjengan?
6)         Apa saja kebijakan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan ?


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kemiskinan dan Kesenjangan
Kemiskinan dalam pengertian konvensional merupakan pendapatan (income) dari suatu kelompok masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu seringkali berbagai upaya pengentasan kemiskinan hanya berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan kelompok masyarakat miskin.
Kemiskinan seringkali dipahami dalam pengertian yang sangat sederhana yaitu sebagai keadaan kekurangan uang, rendahnya tingkat pendapatan dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Padahal sebenarnya, kemiskinan adalah masalah yang sangat kompleks, baik dari faktor penyebab maupun dampak yang ditimbulkannya.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) pengertian, yakni: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, seperti: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang tergolong miskin relatif apabila seseorang tersebut sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedangkan seseorang tergolong miskin kultural apabila seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut memiliki sikap tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Adapun pendekatan yang digunakan untuk memperkirakan penduduk miskin yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: (1) Pendekatan Wilayah dan (2) Pendekatan Rumah Tangga. Penjelasan dari kedua pendekatan tersebut adalah sebagai berikut :
    Pendekatan wilayah, merupakan pendekatan untuk memperkirakan penduduk miskin melalui kantong-kantong kemiskinan yang berupa desa miskin (desa tertinggal). Secara makro, pendekatan wilayah dilakukan berdasarkan asumsi bahwa penduduk miskin dapat diidentifikasi melalui fasilitas (infrastruktur), kondisi jalan, akses terhadap alat transportasi, sarana kesehatan, pendidikan, serta kondisi sosial ekonomi yang mendukung kehidupan masyarakat di wilayah yang diamati. Apabila infrastruktur wilayah tersebut tergolong berkualitas rendah, maka besar kemungkinannya tingkat kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut tergolong rendah. Sebuah desa yang mempunyai infrastruktur kurang memadai diasosiasikan sebagai desa kantong kemiskinan.
    Pendekatan rumah tangga, adalah pendekatan yang mengacu kepada ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan minimum hidupnya. Perhitungan jumlah penduduk miskin dengan pendekatan rumah tangga pada prinsipnya adalah mengukur ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan dan non-pangan yang paling minimal.
2.1.1Konsep dan Pengertian Kemiskinan
Ø  Konsep dari kemiskinan ada dua yaitu Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan Relatif .
Kemiskinan Absolut Dalam konsep ini kemiskinan dikaitkan dengan tingkat pendapatan dankebutuhan.Kebutuhan tersebut dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhandasar(basic need) yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak.Apabila pendapatan tersebut tidak mencapai kebutuhan minimum, maka dapat dikatakan miskin.Sehingga dengan kata lain bahwa kemiskinan dapat diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup.Tingkat pendapatan Pendapatan Tabungan Rendah, Rendah Investasi, Rendah minimum merupakan pembatas antara keadaan miskin dantidak miskin atau sering disebut sebagai garis batas kemiskinan. Masalah utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan tingkat komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat istiadat, iklim dan berbagai faktor ekonomi lain. Konsep kemiskinan yang didasarkan atas perkiraan kebutuhan dasar minimum merupakan konsep yang mudah dipahami tetapi garis kemiskinan objektif sulit dilaksanakan karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Tidak ada garis kemiskinan yang berlaku pasti dan umum, hal itu dikarenakan garis kemiskinan berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya.

Kemiskinan Relatif Seseorang yang sudah mempunyai tingkat pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum tidak selalu berarti tidak miskin. Hal ini terjadikarena kemiskinan lebih banyak ditentukan oleh keadaan sekitarnya, walaupun pendapatannya sudah mencapai tingkat kebutuhan dasar minimum tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya, maka orang tersebut masih berada dalam keadaan miskin. Berdasarkan konsep kemiskinan relatif ini, garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat. Pada umumnya, ukuran kemiskinan dikaitkan dengan tingkat pendapatandan kebutuhan. Perkiraan kebutuhan dibatasi pada kebutuhan pokok ataukebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Bila pendapatan tidak mencapai kebutuhan minimum, maka orang tersebutdapat dikatakan miskin. Dengan kata lain, kemiskinan dapat diukur denganmembandingkan tingkat pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhanhidup. Tingkat pendapatan minimum merupakan pembatas antara keadaan miskindan tidak miskin atau sering disebut sebagai garis batas kemiskinan.
Ø  Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos,2002:4).
Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntunan non-material yang diterima oleh seseorang. Secara luas kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk, kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat (SMERU dalam Suharto dkk, 2004).
Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan (Depsos, 2001).

2.1.2 Pengertian Kesenjangan
Ø  Pengertian Kesenjangan
Menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) kesenjangan berasal dari kata senjang yang berarti, tidak simetris atau tidak sama bagian yg di kiri dan yg di kanan (tt ukiran dsb); genjang;berlainan sekali; berbeda; ada (terdapat) jurang pemisah;.ketidakseimbangan.. Sedangkan Kesenjangan Sosial itu sendiri adalah distribusi yang tidak merata (ketidakadilan,  ketidaksetraaan dan ketidakseimbangan ) yang dialami oleh individu dan kelompok yang dianggap penting dalam suatu masyarakat dan penilaian yang tidak sama serta pengecualian berdasarkan posisi sosial dan gaya hidup. Juga, hak dan kewajiban tidak didistribusikan secara merata atau ketidaksamaan akses untuk mendapatkan atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya bisa berupa kebutuhan primer, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, peluang berusaha dan kerja. Dapat pula berupa kebutuhan sekunder, seperti sarana pengembangan usaha, sarana perjuangan hak asasi, sarana saluran politik, pemenuhan pengembangan karir, dan lain-lain.

2.2 Garis Kemiskinan
Garis kemiskinan atau batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam praktiknya, pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan juga definisi kemiskinan) lebih tinggi di negara maju daripada di negara berkembang.Hampir setiap masyarakat memiliki rakyat yang hidup dalam kemiskinan.
Sementara di Indonesia sendiri Pemerintah menetapkan batas konsumsi kalori setara 2100kilokalori perkapita per hari, jadi kesimpulannya adalah garis kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.
Tahap pertama adalah menentukan penduduk referensi, yaitu 20 persen penduduk yang berada di atas Garis Kemiskinan Sementara, yaitu garis kemiskinan periode lalu yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).
GK= GKM + GKNM
Garis Kemiskinan Makanan adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumdi penduduk referensi dan kemudian disetarakan dengan nilai energi 2.100 kilokalori perkapita per hari. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Selanjutnya GKM tersebut disetarakan dengan 2.100 kilokalori dengan cara mengalikan 2.100 terhadap harga implisit rata-rata kalori.
Garis Kemiskinan Non-Makanan merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub-kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi /sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalan data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKD 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumahtangga per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibandingkan data Susenas modul konsumsi.
Garis Kemiskinan merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non-Makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Berikut adalah data yang bersumber dari Bank Dunia dan BPS yg menunjukkan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan di Indonesi dari tahun 2006-2014.




Statistik Kemiskinan dan Ketidaksetaraan di Indonesia:

 2006
 2007
 2008
 2009
 2010
 2011
 2012
 2013
 2014
Kemiskinan Relatif
(% dari populasi)
 17.8
 16.6
 15.4
    14.2
   13.3
  12.5
  11.7
 11.5
   11.0
Kemiskinan Absolut
(dalam jutaan)
   39
   37
   35
      33
    31
   30
   29
   29
     28
Koefisien Gini/
Rasio Gini
    -
  0.35
 0.35
    0.37
   0.38
  0.41
  0.41
 0.41
    -
Sumber: Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik (BPS)
Propinsi dengan Angka Kemiskinan Relatif Tinggi¹
Papua
          27.8%
Papua Barat
          26.3%
Nusa Tenggara Timur
          19.6%
Maluku
          18.4%
Gorontalo
          17.4%
¹ persentase berdasarkan total penduduk per propinsi bulan September 2014
Propinsi dengan Angka Kemiskinan Absolut Tinggi¹
Jawa Timur
       4.7
Jawa Tengah
       4.6
Jawa Barat
       4.2
Sumatra Utara
       1.4
Lampung
       1.1
¹ dalam jumlah jutaan pada bulan September 2014

 2005
 2006
 2007
 2008
 2009
 2010
 2011
 2012
 2013
 2014
Kemiskinan Pedesaan
(% penduduk yg hidup di bawah garis kemiskinan desa)
 20.0
 21.8
 20.4
 18.9
 17.4
 16.6
 15.7
 14.3
 14.4
 13.8


 2005
 2006
 2007
 2008
 2009
 2010
 2011
 2012
 2013
 2014
Kemiskinan Kota
(% penduduk yg tinggal di
bawah garis kemiskinan kota)
 11.7
 13.5
 12.5
 11.6
 10.7
  9.9
  9.2
  8.4
  8.5
  8.2
2.3 Penyebab dan Dampak Kemiskinan dan Kesenjangan
Ø  Penyebab Kemiskinan
Pada umumnya di negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:
1)      Laju Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat di setiap 10 tahun menurut hasil sensus penduduk. Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
2)      Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran.
Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong sebagi tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi setiap orang atausemua penduduk kesenjangan dikatakan lunak, distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup merata.
Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relatif tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih.
3)      Tingkat pendidikan yang rendah.
Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara. Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry, jelas sekali dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.
4)      Kurangnya perhatian dari pemerintah.
Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadi salah satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memutuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya.
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks.
Ø  Penyebab Kesenjangan
1.      UMR yang ditentukan pemerintah antara pegawai swasta dan pegawai Pemerintah yang     sangat berbeda.
2.       PNS (golongan atas) lebih sejahtera dibandingkan petani
3.      Pertanian kalah jauh dalam meyuplai Produk Domestik Bruto (PDB) yang hanya sekitar 9,3% di tahun 2011, padahal Indonesia merupakan Negara agraris

Ø  Dampak Kemiskinan dan Kesenjangan
1)      Pengangguran

Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis” mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat

2)      Kekerasan.
Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.
3)      Pendidikan.
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
4)      Kesehatan.
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
5)      Konflik Sosial.
Tanpa bersikap munafik konflik muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan “keamanan” dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif.
2.4 Pertumbuhan 
Pertumbuhan Ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang.
Definisi ini mengandung tiga unsur, yaitu :
1)      Pembangunan ekonomi sebagai suatu proses berarti perubahan yang terus menerus yang di dalamnya telah mengandung unsur-unsur kekuatan sendiri untuk investasi baru.
2)      Usaha meningkatkan pendapatan perkapita.
3)      Kenaikan pendapatan per kapita harus berlangsung dalam jangka panjang.
Pertumbuhan Ekonomi membutuhkan :
a. Ketahanan Pangan.
b. Ketahanan Energy.
c. Stabilitas Harga .
d. Stabilitas Ekonomi dan stimulus fiscal.
e. Iklim Investasi yang kondusif.
f. Pengembangan Infrastruktur untuk mendukung daya saing sector riil.
Sebagai upaya meperbaiki tingkat kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat secara luas, tujuan dasar pembangunan ekonomi tidak hanya untuk mengejar pertumbuhan PDB atau PDRB, namun juga untuk menciptakan pemerataan pendapatan antar masyarakat. Karena jika hanya fokus pada PDB, akan menimbulkan ketimpangan dan ketidakmerataan dalam distribusi pendapatan. Hal itu dikarenakan tingkat kesejahteraan seseorang sulit diukur dan subyektif sifatnya.
Menurut Kuznets, hubungan antara kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan hubungan negatif, sebaliknya hubungan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesenjangan ekonomi adalah hubungan positif. pola hubungan yang positif kemudian menjadi negatif, menunjukkan terjadi proses evolusi dari distribusi pendapatan dari masa transisi suatu ekonomi pedesaan (rural) ke suatu ekonomi perkotaan (urban) atau ekonomi industri.
2.5 Indikator-Indikator Kemiskinan dan Kesenjangan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri secara detail indikator kemiskinan tersebut. Adapun indikator – indikator kemiskinan sebagaimana dikutip dari Badan Pusat Statistik, antara lain sebagai berikut :
1.    Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar ( sandang,pangan, papan ).
2.    Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya ( kesehaatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi ).
3.    Tidak adanya jaminan masa depan ( karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga ).
4.    Kerentangan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5.    Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6.    Kuranganya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7.    Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8.    Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9.    Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial ( anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga,janda miskin,kelompok marginal dan terpencil ).
Ø  Indikator - Indikator Kesenjangan Pendapatan
Adapun indikator – indikator kesenjangan pendapatan antara lain sebagai beikut :
1.    UMR yang ditentukan pemerintah antara pegawai swasta dan pegawai Pemerintah yang berbeda.
2.    PNS ( golongan atas ) lebih sejahtera dibandingkan petani.
3.    Pertanian kalah jauh dalam menyuplai Produk Domestik Bruto ( PDB ) yang hanya sekitar 9.3 % di tahun 2011, padahal Indonesia merupakan Negara agraris.

2.6 Faktor-Faktor Kemiskinan dan Kesenjangan
Ø  Faktor-Faktor Kemiskinan
Yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu :
1.    Kemiskinan alamiah.
Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam yang terbatas,penggunaan teknologi yang rendah,dan bencana alam.
2.    Kemiskinan buatan.
Kemiskinan ini terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga mereka tetap miskin.
Selain itu,penyebab kemiskinan di negara Indonesia adalah :
1)      Laju Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan penduduk Indonesia terus menigkat di setiap 10 tahun menurut hasil sensus penduduk.
Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesia semakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harud ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
2)      Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran.
Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Yang tergolong tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Jadi setiap orang atau semua penduduk kesenjangan dikatakan lunak,distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup merata.

3)      Tingkat pendidikan yang rendah.
Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di suatu negara. Ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja. Untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industry, jelas sekali dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mempunyai skill atau paling tidak dapat membaca dan menulis.
4)      Kurangnya perhatian dari pemerintah.
Pemerintah yang kurang peka terhadap laju pertumbuhan masyarakat miskin dapat menjadi salah satu faktor kemiskinan. Pemerintah tidak dapat memutuskan kebijakan yang mampu mengendalikan tingkat kemiskinan di negaranya.
            Menurut Todaro (1997) menyatakan bahwa variasi kemiskinan dinegara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1)      Perbedaan geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan,
2)      Perbedaan sejarah, sebagian dijajah oleh Negara yang berlainan,
3)      Perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya   manusianya
4)      Perbedaan peranan sektor swasta dan negara,
5)      Perbedaan struktur industri,
6)      Perbedaan derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain
7)      Perbedaan pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri.
Studi empiris Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Departemen Pertanian (1995) yang dilakukan pada tujuh belas propinsi di Indonesia, menyimpulkan bahwa ada enam faktor utama penyebab kemiskinan, yaitu:
1)      Rendahnya kualitas sumber daya manusia, hal ini ditunjukkan dengan rendahnya tingkat pendidikan, tingginya angka ketergantungan, rendahnya tingkat kesehatan, kurangnya pekerjaan alternatif, rendahnya etos kerja, rendahnya keterampilan dan besarnya jumlah anggota keluarga.
2)      Rendahnya sumber daya fisik, hal ini ditunjukkan oleh rendahnya kualitas dan aset produksi serta modal kerja.
3)      Rendahnya penerapan teknologi, ditandai oleh rendahnya penggunaan input mekanisasi pertanian.
4)      Rendahnya potensi wilayah yang ditandai dengan oleh rendahnya potensi fisik dan infrastruktur wilayah.
5)      Kurang tepatnya kebijaksanaan yang dikukan oleh pemerintah dalam investasi dalam rangka pengentasan kemiskinan.
6)      Kurangnya peranan kelembagaan yang ada.
Menurut Ginanjar (1996) ada 4 faktor penyebab kemiskinan, faktor-faktor tersebut antara lain:
1)      Rendahnya taraf pendidikan
2)      Rendahnya taraf kesehatan.
3)      Terbatasnya lapangan kerja.
4)      Kondisi keterisolasian.
Kemiskinan melekat pada diri penduduk miskin, mereka miskin karena tidak memiliki aset produksi dan kemampuan untuk meningkatkan produktivitas. Mereka tidak memiliki aset produksi karena mereka miskin, akibatnya mereka terjerat dalam lingkungan kemiskinan tanpa ujung dan pangkal.
Pendapat Ginanjar (1996) bahwa kemiskinan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1)      Sumber daya alam yang rendah.
2)      Teknologi dan unsur penduduknya yang rendah.
3)      Sumber daya manusia yang rendah.
4)      Saran dan prasarana termasuk kelembagaan yang belum baik.
World bank ( 2000) memberikan resep baru dalam memerangi kemiskinan dengan 3 pilar yaitu :
1)      Pemberdayaan yaitu proses peningkatan kapasitas penduduk miskin untuk mempengaruhi lembaga-lembaga pemerintah yang mempengaruhi kehidupan mereka dengan memperkuat partisipasi mereka dalam proses politik dan pengambilan keputusan tingkat lokal.
2)      Keamanan yaitu proteksi bagi orang miskin terhadap goncangan yang merugikan melalui manajemen yang lebih baik dalam menangani goncangan ekonomi makrodan jaringan pengamanan yang lebih komprhensif.
3)      Kesempatan yaitu proses peningkatan askes kaum miskin terhadap modal fisik dan modal manusia dan peningkatan tingkat pengembalian dari asset-asset tersebut.
ADB (1999) menyatakan ada 3 pilar untuk mengentaskan kemiskinan yaitu :
1)      Pertumbuhan berkelanjutan yang prokemiskinan.
2)      Pengembangan sosial yang mencakup:Pengembangan SDM,modal sosial,perbaikan status perempuan, dan perlindungan sosial.
3)      Manajemen ekonomi makro dan pemerintahan yang baik yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan.


Ø  Faktor-Faktor Kesenjangan
1. Kemiskinan
               Kemiskinan adalah penyebab utama terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat. Banyak orang menganggap bahwa kemiskinan adalah suatu suratan takdir atau mereka mereka miskin karena malas, tidak kreatif, dan tidak punya etos kerja. Inti kemiskinan terletak pada kondisi yang disebut perangkap kemiskinan. Perangkap itu terdiri dari :
1)      Kemiskinan itu sendiri
2)      Kelemahan fisik
3)      Keterasingan atau kadar isolasi
4)      Kerentaan
5)      Ketidakberdayaan


2. Kurangnya Lapangan Kerja             
               Lapangan pekerjaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian masyarakat, sedangkan perekonomian menjadi faktor terjadinya kesenjangan sosial. Sempitnya lapangan pekerjaan di Indonesia menjadikan pengangguran yang sangat besar di Indonesia dan menyebabkan perekonomian masyarakat bawah semakin rapuh. Salah satu karakteristik tenaga kerja di Indonesia adalah laju pertumbuhan tenaga kerja lebih tinggi ketimbang laju pertumbuhan lapangan kerja. Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, dimana lapangan pekerjaan masih berlebih. Faktor-faktor penyebab pengangguran di Indonesia:
1)      Kurangnya sumber daya manusia pencipta lapangan kerja
2)      Kelebihan penduduk/pencari kerja
3)      Kurangnya jalinan komunikasi antara si pencari kerja dengan pengusaha
4)      Kurangnya pendidikan untuk pewirausaha

2.7 Kemiskinan di Indonesia
Masalah kemiskinan di Indonesia erat sekali hubungannya dengan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM), hal ini dibuktikan oleh rendahnya mutu kehidupan masyarakat Indonesia yang meskipun kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Sebagaimana ditunjukan oleh rendahnya Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) Indonesia di tahun 2002 yang masih menempati peringkat lebih rendah dari Malaysia dan Thailand di antara Negara-negara ASEAN.

Tantangan lainnya adalah kesenjangan antara desa dan kota. Proporsi penduduk miskin di pedesaan relativ lebih tinggi dibanding perkotaan. Data Susenas (survei sosial ekonomi nasional) pada tahun 2004 menunjukan bahwa sekitar 69,0 persen penduduk Indonesia termasuk penduduk miskin yang sebagian besar bekerja di sector pertanian. Selain itu juga tantangan yang sangat memilukan adalah kemiskinan di alami oleh kaum perempuan yang ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peranan wanita, terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih rendahnya angka pembangunan gender (Gender-related Development Indeks, GDI) dan angka Indeks pemberdayaan Gender (Gender Empowerment Measurement,GEM).

Selanjutnya adalah otonomi daerah. di mana hal ini mempunyai peran yang sangat signifikan untuk mengentaskan atau menjerumuskan masyarakat dari kemiskinan. Sebab ketika meningkatnya peran keikutsertaan pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan. maka tidak mustahil dalam jangka waktu yang relatif singkat kita akan bisa mengentaskan masyarakat dari kemiskinan pada skala nasional terutama dalam mendekatkan pelayanan dasar bagi masyarakat. Akan tetapi ketika pemerintah daerah kurang peka terhadap keadaan lingkungan sekitar, hal ini sangat berpotensi sekali untuk membawa masyarakat ke jurang kemiskinan, serta bisa menimbulkan bahaya laten dalam skala Nasional.


2.8 Kebijakan anti Kemiskinan
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam arti cost effectiveness-nya tinggi.
Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
1)      Pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
2)      Pemerintahan yang baik (good governance)
3)      Pembangunan sosial
Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
a)      Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan
b)      Intervensi jangka menengah dan panjang.
c)      Pembangunan sektor swasta
d)      Kerjasama regional
e)      APBN dan administrasi
f)       Desentralisasi
g)      Pendidikan dan Kesehatan
h)      Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan

Upaya penanggulangan kemiskinan Indonesia telah dilakukan dan menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 dan dijabarkan lebih rinci dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahun serta digunakan sebagai acuan bagi kementrian, lembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan tahunan.

Sebagai wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan pembangunan Milenium, Strategi Nasional Pembangunan Kemiskinan (SPNK) telah disusun melalui proses partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders pembangunan di Indonesia. Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota telah membentuk Komite penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) dan menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) sebagai dasar arus utama penanggulangan kemiskinan di daerah dan mendorong gerakan sosial dalam mengatasi kemiskinan.
Adapun langkah jangka pendek yang diprioritaskan antara lain sebagai berikut:
1.) Mengurangi kesenjangan antar daerah dengan;
a)      Penyediaan sarana-sarana irigasi, air bersih dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka sumber air bersih.
b)      Pembangunan jalan, jembatan, dan dermaga daerah-daerah tertinggal.
c)      Redistribusi sumber dana kepada daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen Dana Alokasi Khusus (DAK) .
2.)  Perluasan kesempatan kerja dan berusaha dilakukan melalui bantuan dana stimulan untuk modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan revitalisasi industri.
3.)  Khusus untuk pemenuhan sarana hak dasar penduduk miskin diberikan pelayanan antara lain:
a)      Pendidikan gratis sebagai penuntasan program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi murid yang kurang mampu.
b)      Jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi penduduk miskin di puskesmas dan rumah sakit kelas tiga.


BAB III PENUTUP

Ø  Kesimpulan
Masalah kemiskinan di Indonesia memang sangat rumit untuk dipecahkan. Dan tidak hanya di Indonesia saja sebenarnya yang mengalami jerat kemiskinan, tetapi banyak negara di dunia yang mengalami permasalahan ini.
Upaya penurunan tingkat kemiskinan sangat bergantung pada pelaksanaan dan pencapaian pembangunan di berbagai bidang. Oleh karena itu, agar pengurangan angka kemiskinan dapat tercapai,dibutuhkan sinergi dan koordinasi program-program pembangunan di berbagai sektor,terutama program yang menyumbang langsung penurunan kemiskinan.
Negara yang ingin membangun perekonomiannya harus mamou meningkatkan standar hidup penduduk negaranya, yan gdiukur dengan kenaikan penghasilan riil per kapita. Indonesia sebagai negara berkembang memenuhi aspek standar kemiskinan diantaranya merupakan produsen barang primer,memiliki masalah tekanan penduduk,kurang optimalnya sumber daya alam yang diolah,produktivitas penduduk yang rendah  karena keterbelakangan pendidikan,kurangnya modal pembangunan,dan orientasi ekspor barang primer karena ketidakmampuan dalam mengolah barang-barang tersebut menjadi lebih berguna.
Ø  Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif,inovatif dan eksploratif. Selain itu,globalisasi membuka mata bagi Pegawai pemerintah,maupun calon pegawai pemerintah agar berani mengambil sikap yang lebih tegas sesuai dengan visi dan misi bangsa Indonesia ( tidak memperkaya diri sendiri dan kelompoknya). Dan mengedepankan partisipasi masyarakat Indonesia untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan,wawasan,skill,mentalitas dan moralitas yang standarnya adalah standar global.


Referensi :